Senin, 20 April 2015

Beografi Syeik Abdul Ra’uf Al-Singkily

Inilah ulama besar yang ikut mewarnai sejarah mistik Islam di nusantara. Namanya Sheikh Abdur Rauf Singkili, terkadang ditulis Abdul Al-Ra'uf Al-Sinkili. Mistik Islam itu ia ajarkan melalui Tarekat Syattariyah. Tarekat Syatariyah sendiri mulai muncul di India pada abad 15. Nama Syattariyah dinisbahkan kepada tokoh yang mempopulerkan dan berjasa mengembangkannya, yaitu Abdullah Al-Syattar. Tarekat Syattariyah pernah menduduki posisi penting lantaran tarekat ini merupakan salah satu tarekat yang besar pengaruhnya di dunia Islam. Di Indonesia, tarekat ini lalu dikembangkan oleh Sheikh Singkel.

Dilahirkan di surau, Aceh, pada 1024 H/1615 M, nenek moyang Sheikh Singkel berasal dari Persia yang datang ke Kesultanan Samudera Pasai pada akhir abad ke-13. Nama Singkel dinisbakah pada daerah kelahirannya itu. Beberapa literatur menyebutkan, ayah Singkel adalah kakak laki-laki dari Hamzah Al-Fansuri, kendati tidak cukup bukti yang meyakinkan bahwa ia adalah keponakan Al-Fansuri. Nama yang terakhir ini merupakan seorang ulama yang juga filsuf yang terkenal dengan pantheismenya. Namun, ada pula yang menyatakan bahwa ayah Singkel, yakni Syeikh 'Ali adalah seorang Arab yang telah mengawini wanita setempat dari Fansur (Barus), sebuah kota pelabuhan tua di Sumatera Barat. Keluarga itu lantas menetap di sana.

Pendidikan pertama Singkel didapatkan di tempat kelahirannya, Singkel, terutama dari ayahnya yang merupakan seorang alim. Ayahnya juga mempunyai pesantren. Singkel pun menimba ilmu di Fansur, karena ketika itu negeri ini menjadi salah satu pusat Islam penting di nusantara serta merupakan titik hubung antara orang Melayu dan kaum Muslim dari Asia Barat dan Asia Selatan. Beberapa tahun kemudian, Singkel berangkat ke Banda Aceh, ibukota kesultanan Aceh dan belajar kepada Syams al-Din al-Samatrani, seorang ulama pengusung doktrin Wujudiyyah.

Sejarah perjalanan karier Singkel diawali saat dia menginjakkan kaki di jazirah Arab pada 1052 H/1642 M. Tercacat ada sekitar 19 guru yang pernah mengajarinya dengan berbagai disiplin ilmu Islam di samping sebanyak 27 ulama terkemuka lainnya.Tempat belajarnya tersebar di sejumlah kota yang berada di sepanjang rute haji, mulai dari Dhuha (Doha) di wilayah Teluk Persia, Yaman, Jeddah, Makkah serta Madinah. Studi keislamannya dimulai di Doha, Qatar, dengan berguru pada seorang ulama besar, Abd Al-Qadir al Mawrir.

Ketika di Yaman, Singkel belajar di sebuah kota bernama Bayt al-Faqih yakni dengan keluarga Ja'man. Beberapa anggota keluarga ini terkenal sebagai ahli sufi dan ulama terkemuka, antara lain Ibrahim Muhammad Ja'man serta Faqih al-Thayyib Abi al-Qasim Ja'man. Sebagian ulama Ja'man adalah juga murid-murid dari Ahmad Al-Qusyasyi dan Ibrahim al-Kurani.

Guru paling berpengaruh terhadap pemahaman keagamaan Singkel adalah Ibrahim Abdullah Ja'man, seorang muhaddits dan faqih. Di samping itu dia juga seorang pemberi fatwa yang produktif. Seperti diuraikan Dr Azyumardi Azra dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, sebagian besar waktu Singkel dihabiskan untuk mempelajari ilm al-zhahir (pengetahuan eksoteris) seperti fiqih, hadits dan subyek lain yang terkait. Sementara guru Singkel yang lain, yakni Ishaq Muhammad Ja'man, terkenal sebagai muhaddits dan faqih di Bayt al-Faqih.

Ketika belajar di Zabid, Singkel banyak menimba ilmu kepada Abd Al-Rahim al-Shiddiq Al-Khash, Amin Al-Shiddiq al-Mizjaji dan Abd Allag Muhammad Al-Adani. Sejumlah ulama Yaman semisal Abd Fatah Al-Khash, Sayyid al-Thahit Al-Maqassari, Qadhi Muhammad Abi Bakr Muthayr dan Ahmad Abu Al-Abbas al-Muthayr juga banyak berhubungan dengan Singkel. Sesuai urutan rute haji, diketahui kemudian bahwa Singkel menyinggahi kota Jeddah di Saudi Arabia dimana dia belajar dengan muftinya Abd Al-Qadir Al-Bharkali. Selanjutnya di Makkah, Singkel belajar dengan Badr Al-Din al-Luhuri dan Abd Allah Al-Luhuri. Guru Singkel terpenting di Makkah adalah Ali Abd Al-Qadir.

Singkel juga menjalin hubungan dengan beberapa ulama terkemuka di Makkah. Antara lain Isa al-Maghribi, Abd Al-Aziz Al-Zamzani, Taj Al-din Ibn Ya'qub, Ala' Al-Din Al-Babili, Zayn Al-Abidin Al-Thabari, Ali Jamal Al-Makki dan Abd Allah Sa'id Ba Qasyir al-Makki. Dari banyak ulama inilah yang akhirnya menjadi bagian dari jaringan Singkel dalam upayanya menyebarkan pembaruan dan pengetahuan Islam di nusantara. Perjalananan akhir Singkel adalah di Madinah sekaligus menyelesaikan pelajarannya. Di kota tersebut, dia belajar dengan dua orang ulama penting, Ahmad Al-Qusyasyi dan khalifahnya Ibrahim al-Kurani. Dari Al-Qusyasyi dia mempelajari ilmu-ilmu dalam (ilm al bathin) yakni tasawuf dan ilmu terkait lainnya. Oleh gurunya itu, Singkel lantas ditunjuk sebagai khalifah Syathariyyah dan Qadiriyyah. Ini sekaligus menandai selesainya pelajaran dalam jalan mistis.

Ibrahim Al-Kurani banyak menanamkan pelajaran secara intelektual kepada Singkel. Pelajaran yang tidak hanya menyangkut pemikiran melainkan pada tingkah laku pribadi dan ilmu pengetahuan tentang pemahaman intelektual Islam bukannya pengetahuan spiritual atau mistis. Kedua ulama tersebut menjadi sentral dalam pencarian pengetahuan religi spiritual Singkel. Bahkan tak berlebihan jika al-Qusyasyi telah dianggap sebagai guru spiritual dan mistis Singkel sementara Al-Kurani menjadi guru intelektualnya.

Kualitas intelektual Singkel tak perlu diragukan lagi berkat didikan para ulama terkemuka saat itu. Pengetahuannya bisa dibilang sangat lengkap. Mulai dari syariat, fiqih, hadist, disiplin ilmu ekosoteris hingga kalam dan tasawuf.

Karier mengajarnya dimulai di Haramayn (Mekah dan Madinah). Hal ini dinilai Azyumardi Azra tidak mengherankan mengingat menjelang datang ke Makkah dan Madinah, Singkel telah mempunyai pengetahuan memadai untuk disampaikan kepada kaum muslim di Melayu-Indonesia. Selama 19 tahun dia belajar di tanah Arab. Merasa sudah cukup menggali ilmu dari banyak ulama, Singkel memutuskan kembali ke nusantara.

Ia kembali ke Aceh sekitar tahun 1083 H/1662 M dan mengajarkan serta mengembangkan tarekat Syattariah yang diperolehnya di Arab. Murid yang berguru kepadanya makin bertambah banyak dan bukan hanya berasal dari sekitar wilayah Aceh saja tapi seantero nusantara. Tak sedikit di antara murid-muridnya tadi menjadi ulama terkenal seperti Syeikh Burhanuddin dari Ulakan (Pariaman, Sumbar), Abd Al-Muhnyi dari Jawa Barat serta Dawud Al-Jawi Al-Fansuri Ismail Agha Mushthafa Agha 'Ali Al-Rumi asal Turki.


Karena pengetahuannya yang luas itu, maka Sultanah Shafiyyat Al-Din menunjuk Singkel menjadi Qadhi Malik Al-'Adil atau mufti yang bertanggungjawab terhadap administrasi masalah keagamaan di kesultanan Aceh. Dengan dukungan sultanah, Singkel berhasil menghapus ajaran Salik Buta, tarekat yang sudah ada sebelumnya.

Aceh ketika itu masih diramaikan pertentangan antara penganut doktrin Wujudiyyah dan Nuruddin Al-Raniri. Namun tidak ada sumber yang menyebutkan bahwa Singkel pernah bertemu dengan Al-Raniri sekitar periode 1047 H/1637 M dan 1054 H/1644-45 M. Kendati demikian, Singkel berusaha melepaskan diri dari kontroversi dua paham tersebut.

Singkel meninggal tahun 1105 H/1693 M. Dia dimakamkan di dekat kuala atau mulut sungai Aceh. Tempat tersebut juga menjadi kuburan untuk istri-istrinya, murid kesayangannya Dawud Al-Rumi dan murid-murid lainnya. Di kemudian hari, ia dikenal dengan nama Tengku Syech Kuala yang namanya diabadikan pada perguruan tinggi di Banda Aceh yakni Universitas Syiah Kuala. Singkel pun dikenal sebagai Wali Tanah Aceh. Makamnya hingga kini ramai dikunjungi para peziarah.

Singkel Dalam Karya
Sepanjang hidupnya, tercatat Singkel sudah mengggarap sekitar 21 karya tulis, terdiri dari 1 kitab tafsir, 2 kitab hadits, 3 kitab fiqih dan selebihnya kitab ilmu tasawuf. Bahkan tercatat kitab tafsirnya berjudul Turjuman al-Mustafid(Terjemah Pemberi Faedah) adalah kitab tafsir pertama yang dihasilkan di Indonesia dan berbahasa Melayu.

Dia juga menulis sebuah kitab fiqih berjudul Mi'rat at-Tullab fi Tahsil Ahkam asy-Syari'yyah li al Malik al-Wahhab (Cermin bagi Penuntut Ilmu Fiqih pada Memudahkan Mengenal Hukum Syara' Allah) yang ditulis atas perintah Sultanah. Sementara di bidang tasawuf, karyanya yakni Umdat al-Muhtajin(Tiang Orang-Orang yang Memerlukan), Kifayat al-Muhtajin (Pencukup Para Pengemban Hajat), Daqaiq al-Huruf (Detail-Detail Huruf) serta Bayan Tajalli(Keterangan Tentang Tajali).

Namun, di antara sekian banyak karyanya, terdapat salah satu yang dianggap penting bagi kemajuan Islam di nusantara yaitu kitab tafsir berjudul Tarjuman al-Mustafid. Ditulis ketika Singkel masih berada di Aceh, kitab ini telah beredar luas di kawasan Melayu-Indonesia bahkan hingga ke luar negeri. Diyakini oleh banyak kalangan, tafsir ini telah banyak memberikan petunjuk sejarah keilmuan Islam di Melayu. Di samping pula kitab tersebut berhasil memberikan sumbangan berharga bagi telaah tafsir al-quran dan memajukan pemahaman lebih baik terhadap ajaran-ajaran Islam.

Pada bagian lain, pendapat Singkel terhadap paham wahdadul wujuddipaparkannya dalam karya Bayyan Tajali. Karya ini juga merupakan usahanya untuk merumuskan keyakinan pada ajaran Islam. Dia berujar bahwa betapapun yakin seorang hamba kepada Allah, khalik dan mahluk tetap memiliki arti tersendiri.

Sumber :

Senin, 13 April 2015

Permainan Jaman Dulu


Petak Umpet



Permainan ini sangat sederhana namun menarik. Kita akan mengundi satu orang siapa yang akan menjadi penjaganya. Diamana penjaga itu bertugas untuk menjaga benteng pertahanannya, menghitung waktu sembunyi para pemain dan menemukan para pemain yang bersembunyi. Permainan ini membutuhkan kewaspadaan, tenaga dan kejelian dalam memainkannya. Permainan ini bisa di mainkan oleh banya orang tergantung orangnya yang ingin di mainkan.


Engklek



Engklek adalah sebutan untuk permainan ini di daerah Jawa di daerah saya permainan ini di sebut ingkling. Namun ada juga  daerah yang menyebut permainan ini dengan sebutan cak ingkling. Mungkin di setiap daerah berbeda – beda sebutannya.  Permainan ini sangat sederhana dan tidak memerlukan peralatan yang khusus untuk memainkannya. Hanya menggunakan batu atau apapun sebagai milik kita. Permainan ini diaminkan dengan cara membuat kotak pada tanah dimana kotak-kotak tersebut harus kita lompati dengan satu kaki. Permainan ini juga melatih kekuatan, kejelian dan keseimbangan tubuh para pemainnya. Permainan ini lebih menarik di mainkan oleh 2 – 4 orang.


Congklak



Permainan ini menggunakan kayu atau plastik sebagai papannya. Dimana kayu/plastik ini diberi lubang sebanyak 16 buah dengan susunan 7 lubang pada bagian panjangnya dan dua lubang besar di bagian lebarnya. Permainan ini menggunakan biji-bijian untuk dimana pemain memasukkan biji-bijian ke dalam lubang tersebut. Siapa yang memiliki biji terbanyak pada lubang miliknya, maka dialah pemenangnya. Permainan ini hanya dapat dimainakn oleh dua orang. Beberapa daerah menggunakan media tanah yang dilubangi sebagai pengganti kayu. Di daerah saya sering menggunakan media tanah untuk melakukan permainan ini dan biji – bijianya di gantikan oleh batu kecil yang mudah di dapat di mana – mana.


Kamis, 02 April 2015

Sejarah Al-Kisah Sunan Ki Ageng Gribig

Ki Ageng Gribig yang bernama asli Wasibagno Timur atau ada yang menyebutkan Syekh Wasihatno, merupakan keturunan Prabu Brawijaya V dari Majapahit. Yang mana disebutkan bahwa beliau adalah putra dari Raden Mas Guntur atau Prabu Wasi Jaladara atau Bandara Putih, putra dari Jaka Dolog adalah putra Prabu Brawijaya V raja terakhir kerajaan Majapahit, Ia adalah seorang ulama besar yang memperjuangkan Islam di pulau Jawa, tepatnya di Desa Krajan, Jatinom, Klaten.

Namun menurut Buku Muhammadiyah Setengah Abad 1912-1962 terbitan Departemen Penerangan RI disebutkan bahwa Ki Ageng Gribig masih keturunan Maulana Malik Ibrahim yang berputra Maulana Ishaq, yang berputra Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri), yang berputra Maulana Muhammad Fadhillah (Sunan Prapen) yang berputra Maulana Sulaiman alias Ki Ageng Gribig. Jadi jika ditarik kesimpulan, KH Achmad Dahlan yang bernama lahir Muhammad Darwis pendiri Muhammadiyah itu masih keturunannya Ki Ageng Gribig.

Dakwah Ki Ageng Gribig sangatlah mengena pada masyarakat yang pada saat itu masih banyak memeluk agama Hindu dan Budha.
Syiar beliau tidak hanya di daerah Klaten saja, namun menyebar luas sampai ke daerah Boyolali dan Surakarta.

Ki Ageng Gribig sangat pandai dalam strategi dakwah, hingga masyarakat yang pada waktu itu masih kental dengan keyakinan pada pohon dan batu besar, menjadi beriman pada Allah SWT. Keluhuran serta jasa beliau senantiasa terkenang dan melekat pada masyarakat, terutama yang tinggal di daerah Klaten dan Boyolali. Ki Ageng Gribig juga termasuk ke dalam tokoh yang berpengaruh, karena dekat dengan Sultan Agung Hanyakrakusuma penguasa Mataram.

Ki Ageng Gribig berhasil memadamkan niat Adipati Palembang yang ingin mbalela kepada Mataram tanpa melalui pertumpahan darah. Oleh karenanya, kemudian Sultan Agung bermaksud untuk mengangkat Ki Ageng Gribig sebagai Bupati Nayaka. Namun, Ki Ageng Gribig tidak bersedia dan lebih memilih menjadi ulama dari pada jadi pejabat.

Meskipun menolak, hubungan Ki Ageng Gribig dan Sultan Agung tetaplah baik, bahkan semakin dekat. Karena kemudian Ki Ageng Gribig menikah dengan adik Sultan Agung yang bernama Raden Ayu Emas Winongan, dan diberikan kekuasaan penuh sebagai ulama dan pemimpin atas tanah perdikan Mutihan di Jatinom. Mesjid Alit, mesjid pertama yang dibangun di Jatinom, adalah buah tangannya. Dan bahkan selang tak lama kemudian, atas perintah Sultan Agung, Ki Ageng Gribig mendirikan mesjid baru yang jauh lebih besar.
Mesjid yang berjarak hanya 100 meter dari Masjid Alit ini diberi nama Mesjid Besar Jatinom. Banyak peninggalan-peninggalan beliau yang menjadi bukti sejarah bahwa Ki Ageng Gribig adalah ulama besar yang berhasil dalam dakwahnya. Salah satu peninggalannya adalah Masjid Besar Jatinom yang dulu dijadikan pusat belajar mengajar, serta tongkat beliau yang sampai sekarang dijadikan sebagai tongkat Khotib ketika shalat Jum'at, serta kolam wudhu yang konon adalah tempat wudhu Ki Ageng Gribig beserta santrinya yang berjarak 50 meter dari Masjid yang bernama Sendang Plampeyan, Gua Suran dan juga Gua Belan. Gua Suran letaknya tak jauh dari Mesjid Besar Jatinom. Gua ini, dulunya, adalah tempat bersemedi Ki Ageng Gribig.

Konon, ular dan macan menjadi penjaganya, saat ia bersemedi. Meski berbentuk terowongan, Gua Suran ini tidak terlalu dalam, bahkan lebarnya hanya selebar tubuh manusia. Tingginya, memaksa orang yang masuk ke dalam untuk merunduk, agar tak terantuk atap gua. Tak jauh dari Gua Suran ini, Ki Ageng Gribig sempat memanfaatkan sebuah bangunan kecil sebagai tempat ibadah, saat ia pertama kali datang ke Jatinom.

Sementara Gua Belan, yang letaknya di sebelah timur Gua Suran, juga merupakan tempat bersemedi Ki Ageng Gribig, yang terkadang dijadikan tempat bertemu dengan Sultan Agung. Disebut-sebut, ia mampu melakukan perjalanan dari tempat tinggalnya di Jatinom, ke Makkah al- Mukarromah, dalam waktu singkat, bak orang melempar batu. Sehingga hampir setiap hari, ia dapat pergi ke Tanah Suci, dan kembali ke kampungnya. Suatu hal yang mustahil di zaman itu dan saat ini.

Suatu Jum’at di Bulan Safar (ada yang menyebutkan tanggal 15 Safar), Ki Ageng Gribig kembali dari perjalanannya ke Tanah Suci. Ia membawa oleh-oleh, 3 buah penganan dari sana. Sayangnya saat akan dibagikan kepada penduduk, jumlahnya tak memadai. Bersama sang istri, ia pun kemudian membuat kue sejenis. Kue-kue inilah yang kemudian disebarkan kepada penduduk setempat, yang berebutan mendapatkannya. Sambil menyebarkan kue-kue ini, iapun meneriakkan kata
"Ya Qowiyyu", yang artinya "Tuhan, Berilah Kekuatan" atau bisa juga berarti "Allah Yang Maha Perkasa (Kuat)". Secara utuh, Ki Ageng Gribig berucap::Ya qowiyyu qowwina wal muslimin ya qowiyyu ya rozaq warzuqna wal muslimin”. Yang Artinya, Ya Tuhan Yang Maha Kuat, semoga Engkau memberikan kekuatan kepada kami semua kaum muslimin.

Ya Tuhan Yang Maha Kuat dan Pemberi Rejeki, semoga Engkau memberikan rejeki kepada kami semua kaum muslimin. Penganan ini kemudian dikenal dengan nama apem, saduran dari bahasa Arab "Affan", yang bermakna Ampunan. Tujuannya, agar masyarakat selalu memohon ampunan kepada Sang Pencipta.
Sejak saat itu, tepatnya sejak tahun 1589 Masehi atau 1511 Saka, Ki Ageng Gribig selalu melakukan hal ini. Ia pun mengamanatkan kepada masyarakat Jatinom saat itu, agar di setiap Bulan Safar, memasak sesuatu untuk disedekahkan kepada mereka yang membutuhkan. Amanat inilah yang mentradisi hingga kini di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah, yang kemudian dikenal dengan "Yaqowiyu".

Sebutan Ki Ageng Gribig melekat pada diri beliau konon dikarenakan kesukaan Ki Ageng Gribig untuk tinggal di rumah beratap gribig (anyaman daun nyiur). Makam Ki Ageng Gribig dibuat dari batu merah dan kayu, terletak di Dukuh Jatinom, Kelurahan Jatinom, Kecamatan Jatinom, yang berjarak sekitar 9 km dari kota Klaten, Jawa Tengah.

Versi lain tentang Ki Ageng Gribig juga terdapat di Malang, Jawa Timur. Hanya saja Ki Ageng Gribig ini disebutkan sebagai putra dari Pengeran Kedawung yang juga salah seorang keturunan Lembu Niroto, pemilik panembahan Bromo. Lembu Niroto sendiri adalah putra ketiga dari Raja Brawijaya XI yang memerintah Majapahit pada 1466-1478. Jadi Ki Ageng Gribig itu cicit Raja Brawijaya XI. Ki Ageng Gribig ini konon disebut-sebut sebagai salah satu murid kesayangan Sunan Kalijaga yang ada di Malang. Tak heran jika Ki Ageng Gribig menjadi salah seorang ulama yang tersohor di Malang pada tahun 1650. Makam Ki Ageng Gribig ini kini terletak di Jalan Ki Ageng Gribig Gg. II, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Makam seluas satu hektar itu berada persis di sebelah sebuah masjid yang berdiri di jalan itu yang juga bernama Masjid Ki Ageng Gribig. Di antara susunan batu nisan dan bangunan kijing yang ada di kompleks makam terdapat sebuah bangunan berukuran sekitar 7 x 4 meter di sisi barat. Berbeda dengan bangunan lain, dua pintu yang menghadap utara selalu tertutup rapat, bahkan digembok dari luar, di dalam bangunan itu terdapat dua buah makam, itulah makam Ki Ageng Gribig dan istrinya.

Sumber:
- http://anasha.pun.bz/sejarah-al-kisah-sunan-ki-ageng-gribig.xhtml