Sabtu, 20 Juni 2015

Teuku Nyak Arif


Teuku nyak arif seorang bangsawan Aceh. Ia dilahirkan pada tanggal 17 juli 1899 di Ulee Lheue Banda Aceh. Ayahnya Teuku Nyak Banta nama lengkapnya Teuku Sri Imuem Nyak Banta. Panglima Sagi ( Kepala Daerah ) XXVI Mukim. Ibunya bernama Cut Nyak Rayeuk, bangsawan di daerah Ulee Lheue pula. Pada waktu itu walaupun daerah Aceh telah dikuasai oleh pemerintah Hindia Belanda. Teuku Nyak Arif adalah anak ke tiga dari lima saudara sekandung, 2 laki-laki dan 3 perempuan. Saudara tirinya dilahirkan dari isteri kedua ayahnya dari 3 perempuan dan 2 laki-laki. Sedangkan saudara sekandungnya itu adalah Cut Nyak Asmah, Cut Nyak Maria, Teuku Nyak Arif, Cut Nyak Samsiah, dan si  bungsu Teuku Moh Yusuf.
Pendidikan Teuku Nyak Arif, Sekolah Dasar di Kutaradja ( Banda aceh ) tamat pada tahun 1908, kemudian melanjutkan sekolah guru ( Kweekschool ) di Bukittinggi jurusan pangrehpraja, kemudian melanjutkan OSVIA ( Ospleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren = sekolah calon pangrehraja ) di Banten tamat tahun 1915. Teuku Nyak Arif  kawin dengan anak Teuku Maharaja yang menjadi Uleebalang di Lhokseumawe. Perkawinan itu tidak berlangsung lama, suami istri itu bercerai secara baik-baik sebelum dikaruniai anak. Kemudian pada tahun 1927 Teuku Nyak Arif menikah dengan pemudi Jauhari, berpendidikan MULO ( SMP Belanda ) anak mantri polisi Yazid asal Minangkabau. Mereka dikaruniai 3 orang anak, 2 laki-laki dan yang bungsu wanita, antara lain Teuku azhari, Teuku Syamsul Bahri ( beliau sekarang di Medan , dari hasil wawancara kami ), Cut Nyak Arifah Nasri.
Setelah menyelesaikan pendidikan di OSVIA. Beliau kembali ke Aceh dan mulai bekerja sebagai Ambtenaren Vooedsel Voorziening ( semacam Bulog sekarang ). Pada tahun 1920 Teuku Nyak Arif diangkat menjadi panglima Sagi XXVI Mukim menggantikan ayahnya yang sudah uzur. Dari tahun 1927 s/d 1931 Teuku Nyak Arif dipilih menjadi anggota Volksraad ( Dewan Rakyat ) di Batavia ( Jakarta ). Sebelum “sumpah pemuda “ pada tanggal 28 oktober 1928. Teuku Nyak Arif telah mengumandangkan nama Indonesia dan berbicara tentang persatuan dan kemerdekaan bangsanya. Memperhatikan suara dan sepak terjangnya di Volksraad maka teranglah Teuku Nyak Arif adalah tokoh nasional yang ikut melopori perjuangan ke arah “ Indonesia Merdeka “. Betapa gegernya Belanda sehingga anggota Volksraad Belanda yang bernama Zuyderhoff tokoh P.E.B ( politiek Economische Bond ) langsung memberi komentar dan memperingati Dewan bahwa Teuku Nyak Arif telah menggunakan rencongnya tetapi baru dalam bentuk suara.
Berdirinya Atjeh Studifonds ( Beasiswa Aceh ) diprasakai dan diketuai olehnya berhasil mengirimkan siswa-siswa ke perguruan tinggi. Pada saat Belanda dalam keadaan lemah karena menghadapi serbuan Hitler dalam perang dunia II, Nyak Arif dengan cekatan menggunakan kesempatan yang baik itu. Pada pertemuan pemimpin-pemimpin masyarakat, agama dan partai-partai politik, pada waktu memperingati wafatnya Dr. Sutomo, Teuku Nyak Arif berkobar-kobar menanam semangat kebangsaan yang tahan uji dan sanggup mencapai kemerdekaan.  Masuknya balatentara Jepang ke Aceh tanpa perlawanan dari pihak Belanda karena kekuatan Belanda sudah lebih dulu dilumpuhkan oleh rakyat Aceh. Dalam masa pendudukan Jepang , Teuku Nyak Arif tetap merupakan tokoh yang disegani. Semula beliau diangkat sebagai penasihat Pemerintah Jepang di Aceh, kemudian sebagai GUNCHO di Kutaradja. Setelah itu terpilih sebagai ketua Syiu Sangikai ( sekarang DPR ). Kalau kedatangan Jepang pada mulanya dikatakan untuk melepaskan rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan Belanda, akhirnya ternyata Jepang bukan membawa kebahagiaan tetapi justru menjalankan praktek-praktek yang tidak dapat diterima adat-istiadat kita dan bertentangan dengan ajaran Islam, selain itu melakukan pula kekejaman yang diluar batas perikemanusiaan.
Baik s         elama berada di tanah air maupun ketika berada di Tokyo, Teuku Hasan Dik dan Teuku Nyak Arif yang menjadi pimpinan rombongan Sumatera, tidak pernah mengikuti perintah Jepang untuk rukuk/ membungkukkan diri mereka memberi hormat ke arah matahari terbit/ Istana Tenno Heika, karena sebagai umat Islam tidak mau merobah kiblat ke arah yang lain. Tiada berapa lama sekembali dari Jepang, Teuku Hasan Dik ditangkap dan akhirnya dihukum mati di Medan. Beliau dituduh menjadi kaki tangan sekutu. Tokoh lainnya yang dihukum mati Jepang ialah Teuku Raja jum’at, Teuku Sulaiman Montasik dan yang dihukum seumur hidup ialah Teuku Ali Basyah Bada, Teuku Dulah Tanoh abee, Teuku Ali keureukon, Teuku Dullah Seulimuem dan lain-lain. Dengan terbentuknya Sumatera Cuo Sangi In ( Dewan Perwakiln Rakyat Sumatera ) di Bukittinggi, Teuku Nyak Arif diangkat sebagai wakil ketua dan yang menjadi ketuanya ialah Mohammad Syafe’i ( dari Sumatera Barat ).
Karena membela rakyat dan teman-teman seperjuangan yang dianiayai serta diperlakukan semena-mena oleh Jepang. Teuku Nyak Arif pernah ditahan oleh kempetai ( polisi militer ) Jepang, tetapi mengingat kekhawatiran terhadap pengaruh beliau dan campur tangan Chokang ( Residen ) Jepang, akhirnya beliau dibebaskan kembali.
Sewaktu Jepang memerintahkan pengosongan beberapa kampung di sekitar Kutaradja seperti pungei, Blang Oi, Ulee Lheue, Deah Geulumpang, dan lain lain untuk dijadikan Basis pertahanan Jepang, Teuku Nyak Arif menentangnya dengan keras sehingga Jepang terpaksa membatalkan rencananya itu. Dengan jatuhnya Bom atom di Hiroshima, maka tanggal 14 agustus 1945, Jepang menyerah kepada sekutu tanpa syarat.
Tanggal 3 oktober 1945 Teuku Nyak Arif  diangkat pemerintah RI menjadi Residen ( Gubernur ) pertama di Aceh. Revolusi masih berjalan terus, setiap waktu dapat terjadi perobahan yang diluar perhitungan. Di Aceh bergolaklah kembali persaingan antara kaum Ulee balang dan kaum Ulama. Laskar yang terbesar di Aceh adalah Mujahiddin dan Pesindo Mujahiddin yang dibawah pengaruh kaum Agama mempunyai ambisi akan menggantikan Residen Nyak Arif. Maksud itu mendapat dukungan dari TPR ( Tentara Perlawanan Rakyat ).
Waktu itu Teuku Nyak Arif sedang beristirahat karena penyakit gulanya kambuh. Pimpinan TKR sanggup menghadapi TPR dan mujahiddin, tetapi Nyak Arif tidak memberikan izin, katanya :  “ Biarlah saya serahkan jabatan ini, asal tidak terjadi pertumpahan darah seperti di Pidie “. Maka dengan cara damai pangkatnya Jenderal Mayor di ambil alih oleh Husein al Mujahid dan pangkat kolonel Syamaun Ghara di ambil alih oleh Husen Yusuf.
Mayjen Teuku Nyak Arif ditangkap secara baik dan terhormat. Dibawa dengan kendaraan sedan pribadi beliau dan dikawal oleh 2 anggota TPR yang berpakaian Hitam-hitam dan memakai topeng. Para pemimpin terkemuka Lam nyong mengusulkan agar Teuku Nyak Arif disana, tetapi Nyak Arif menolak karena khawatir rakyat Lam Nyong akan membelanya dengan kekerasan. Semua langkah dan pikiran ditetapkan untuk Nyak Arif untuk menghindari pertempuran sesama kita, dan untuk maksud itu ia ikhlas berkorban. Korbannya terutama tidak lain ialah kedudukan dan pangkat yang ikhlaskan untuk mencegah pertempuran yang akan berakibat parah untuk kesatuan dan persatuan rakyat, sebab revolusi belum selesai, rakyat harus tetap bersatu menghadapi segala kemungkinan.
Teuku Nyak Arif di asingkan di Takengon, sebulan kemudian beliau di tempat pengasingan, barulah keluarganya diizinkan menjenguknya, penyekapan dengan pengawalan yang cukup ketat selama di lokasi pengasingan membuat beliau tidak bisa berbuat apapun. Selang beberapa waktu berjalan dianggap penyakit gulanya makin parah, padahal menurut informasi keluarganya beliau diracuni di tempat pengasingannya oleh orang yang tidak diketahui pelakunya, proses peracunan itu apakah lewat makanan atau minuman, tetapi berita tersebut tidak ada yang dapat dibuktikan dan sebelum hayatnya berakhir ia berpesan kepada keluarganya “ jangan menaruh dendam, karena kepentingan rakyat harus diletakkan di atas segala-galanya”. Teuku Nyak Arif , pemimpin rakyat yang sepanjang hidupnya berjuang untuk kemerdekaan bangsa dan negara dengan jasa-jasanya yang besar dan dengan keikhlasannya berkorban, pada tanggal 26 april 1946 wafat dengan tenang di Takengon. Jenazahnya dikebumikan di makam keluarganya di Lam Nyong gampong Lamreung kabupaten aceh besar. Dengan berdasarkan SK presiden No.071/ TK / tahun 1974 tanggal 9 nopember 1974 menganugerahi gelar kepahlawanan nasional kepada Teuku nyak Arif.

sumber   :Siti Mawar, Teuku Nyak Arif Pejuang Aceh tiga zaman, Balai Pelestarian  Nilai Budaya, Banda Aceh, 2013.

Minggu, 17 Mei 2015

Kenduri Sawah

Top of Form
Bottom of Form

Diawali dari keinginan mengangkat adat budaya kenduri turun ke sawah yang secara turun temurun dilakukan, kenduri blang di Aceh Tamiang masih dilaksanakan hingga sekarang. Adat turun ke sawah ini merupakan tradisi bagi petani yang akan memulai menanam padi.

Zaman dahulu, adat ke sawah yang akrab dikatakan kenduri blang ini merupakan tradisi yang harus dilakukan oleh sekelompok komunitas petani. Sebagai sebuah tradisi turun temurun, tentu dimungkinkan perbedaan seremoni adat tersebut antara zaman dulu dan sekarang. Tulisan ini memotret adat kenduri blang masa kini di salah satu kampung dalam Kabupaten Aceh Tamiang.
Secara khusus cerita ini merupakan rutinitas sebuah kelompok tani “Paya Tualang” di Kampong Paya Meta, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Kelompok ini merupakan salah satu kelompok tani yang masih mengadakan acara adat kenduri blang.

Asal usul kenduri blang atau khanduri blang ini sudah ada sejak zaman nenek moyang. Tradisi ini dilakukan untuk peusejuek bibit yang akan diturunkan setiap tahun (tahun yang akan dilakukan penanaman padi). Sebelum kenduri, terlebih dahulu mufakat pesiapan kenduri oleh kelompok tani tersebut secara patungan (meuripe-ripe). Hasil patungan ini untuk persiapan pelaksanaan. Biasanya mereka sembelih ayam dan menyediakan nasi nasi bungkus atau bu kulah.

Dalam tatacaranya, penyembelihan ayam tersebut harus di sawah. Menurut keyakinan masyarakat di sana, hal itu dilakukan sebagai isyarat darah ayam agar petani selamat dari alat-alat yang tajam seperti cangkul, tajak, babat, dan lain sebagainya. Dalam kenduri blang itu juga dilakukan baca yaasin sekali tamat dan doa semoga tanaman padi tahun ini berkat hingga dapat dizakatkan.
Usai pembacaan yaasin dan doa bersama, dilakukan tepung tawar pada bibit dan alat-alat tani. Tepung tawar atau peusijuek juga dilakukan pada petaninya. Alat-alat yang digunakan sebagai peusijuek antara lain (1) berteh (padi yang digongseng hingga mengembang) digunakan supaya ringan padi keluar, (2) sebutir telur ayam kampong, ini dipercaya sebagai kepala obat, (3) seikat daun peusijuek, digunakan supaya padi mudah berkembang biak.

Jika padi sudah tumbuh dara, petani berkumpul mufakat melakukan kenduri bubur. Hal ini dilakukan agar padi terhindar dari serangan hama seperti ulat dan hama lainnya. Namun, sekarang hal ini sudah jarang dilakukan oleh komunitas petani. Ketika padi sudah bunting (mulai berisi), biasanya juga diadakanlah kenduri. Kali ini kenduri rujak dengan membaca yaasin dan doa.

Menurut kisah orang-orang kampung di sini, kenduri semacam itu dilakukan atas kepercayaan masyarakat bahwa padi dahulunya adalah seorang putri. Perumpamaan dilukiskan sebagai seorang wanita yang sedang hamil dan memiliki keinginan yang disebut sebagai ngidam makanan asam-asam. Maka rujak jadi pilihan.

Jika dilihat sekarang, hampir semua petani menggunakan pestisida untuk menghindari serangan hama. Namun, petuah orang-orang terdahulu untuk menghindari serangan hama, petani menggunakan ranting buluh gading yang masih hidup, daun pinang kuning, daun puding, dan daun ara emas. Daun-daun itu diikat menjadi satu ditancapkan di tengah-tengan sawah. Hal ini dilakukan agar terhindar dari serangan hama seperti ulat, tikus, dan lain sebagainya. Menurut kepercayaan masyarakat, bau daun-daun tersebut menyengat sehingga ulat, tikus, dan hama lainnya tidak berani mendekat.
Pantangan-pantangan bagi petani agar tidak sawah menurut kelompok tani ini adalah hari jumat, hari Rabu Terakhir (rabu abeh) tiap bulan, wanita yang sedang haid. Selain itu, di sawah juga dilarang berbicara takabur.

Mereka juga yakin manfaat dilakukan kenduri blang antara lain: pertama, mengetahui berapa banyak kelompok penanam padi di sawah dan perencanaan penanaman padi. Kedua, mengadakan gotong royong secara bersama-sama. Ketiga mengadakan peraturan pantangan-pantangan di sawah, hal ini dilakukan agar semua petani tetap menjaga pantangan-pantangan secara kebersamaan. Keempat, mengadakan peraturan pananaman, hal ini dilakukan untuk menghindari agar tidak ada petani yang terlambat menanam padinya. Apabila ada salah satu petani yang terlambat menanam padi, ditakutkan nantinya padi yang ditanamnya akan ketinggalan panen, yang mengakibatkan padinya akan terserang hama lebih mudah.

Tata cara bertani yang dilakukan oleh kelompok tani adalah jika telah sampai waktu panen, pemanenannya dimulai pada hari Kamis, lebih baik lagi dimulai pada saat bulan sedang naik. Padi diambil sebanyak tujuh tangkai sebagai tanda menjemput semangat padi dan dibawa pulang ke rumah untuk diselipkan di atas atap. Setelah itu, baru padi dipanen semua. Jika hasil mencapai 100 kaleng, padi itu wajib dizakatkan sebanyak 10 kaleng. Zakat itu dibagikan kepada fakir miskin yang berada di kawasan penanaman padi dan daerah tempat tinggal si petani.


Tulisan ini disarikan dari narasumber M. Ilyas (tokoh masyarakat).
Sumber Web

-          http://www.jkma-aceh.org/kenduri-blang-tradisi-yang-harus-diselamatkan/

Senin, 20 April 2015

Beografi Syeik Abdul Ra’uf Al-Singkily

Inilah ulama besar yang ikut mewarnai sejarah mistik Islam di nusantara. Namanya Sheikh Abdur Rauf Singkili, terkadang ditulis Abdul Al-Ra'uf Al-Sinkili. Mistik Islam itu ia ajarkan melalui Tarekat Syattariyah. Tarekat Syatariyah sendiri mulai muncul di India pada abad 15. Nama Syattariyah dinisbahkan kepada tokoh yang mempopulerkan dan berjasa mengembangkannya, yaitu Abdullah Al-Syattar. Tarekat Syattariyah pernah menduduki posisi penting lantaran tarekat ini merupakan salah satu tarekat yang besar pengaruhnya di dunia Islam. Di Indonesia, tarekat ini lalu dikembangkan oleh Sheikh Singkel.

Dilahirkan di surau, Aceh, pada 1024 H/1615 M, nenek moyang Sheikh Singkel berasal dari Persia yang datang ke Kesultanan Samudera Pasai pada akhir abad ke-13. Nama Singkel dinisbakah pada daerah kelahirannya itu. Beberapa literatur menyebutkan, ayah Singkel adalah kakak laki-laki dari Hamzah Al-Fansuri, kendati tidak cukup bukti yang meyakinkan bahwa ia adalah keponakan Al-Fansuri. Nama yang terakhir ini merupakan seorang ulama yang juga filsuf yang terkenal dengan pantheismenya. Namun, ada pula yang menyatakan bahwa ayah Singkel, yakni Syeikh 'Ali adalah seorang Arab yang telah mengawini wanita setempat dari Fansur (Barus), sebuah kota pelabuhan tua di Sumatera Barat. Keluarga itu lantas menetap di sana.

Pendidikan pertama Singkel didapatkan di tempat kelahirannya, Singkel, terutama dari ayahnya yang merupakan seorang alim. Ayahnya juga mempunyai pesantren. Singkel pun menimba ilmu di Fansur, karena ketika itu negeri ini menjadi salah satu pusat Islam penting di nusantara serta merupakan titik hubung antara orang Melayu dan kaum Muslim dari Asia Barat dan Asia Selatan. Beberapa tahun kemudian, Singkel berangkat ke Banda Aceh, ibukota kesultanan Aceh dan belajar kepada Syams al-Din al-Samatrani, seorang ulama pengusung doktrin Wujudiyyah.

Sejarah perjalanan karier Singkel diawali saat dia menginjakkan kaki di jazirah Arab pada 1052 H/1642 M. Tercacat ada sekitar 19 guru yang pernah mengajarinya dengan berbagai disiplin ilmu Islam di samping sebanyak 27 ulama terkemuka lainnya.Tempat belajarnya tersebar di sejumlah kota yang berada di sepanjang rute haji, mulai dari Dhuha (Doha) di wilayah Teluk Persia, Yaman, Jeddah, Makkah serta Madinah. Studi keislamannya dimulai di Doha, Qatar, dengan berguru pada seorang ulama besar, Abd Al-Qadir al Mawrir.

Ketika di Yaman, Singkel belajar di sebuah kota bernama Bayt al-Faqih yakni dengan keluarga Ja'man. Beberapa anggota keluarga ini terkenal sebagai ahli sufi dan ulama terkemuka, antara lain Ibrahim Muhammad Ja'man serta Faqih al-Thayyib Abi al-Qasim Ja'man. Sebagian ulama Ja'man adalah juga murid-murid dari Ahmad Al-Qusyasyi dan Ibrahim al-Kurani.

Guru paling berpengaruh terhadap pemahaman keagamaan Singkel adalah Ibrahim Abdullah Ja'man, seorang muhaddits dan faqih. Di samping itu dia juga seorang pemberi fatwa yang produktif. Seperti diuraikan Dr Azyumardi Azra dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, sebagian besar waktu Singkel dihabiskan untuk mempelajari ilm al-zhahir (pengetahuan eksoteris) seperti fiqih, hadits dan subyek lain yang terkait. Sementara guru Singkel yang lain, yakni Ishaq Muhammad Ja'man, terkenal sebagai muhaddits dan faqih di Bayt al-Faqih.

Ketika belajar di Zabid, Singkel banyak menimba ilmu kepada Abd Al-Rahim al-Shiddiq Al-Khash, Amin Al-Shiddiq al-Mizjaji dan Abd Allag Muhammad Al-Adani. Sejumlah ulama Yaman semisal Abd Fatah Al-Khash, Sayyid al-Thahit Al-Maqassari, Qadhi Muhammad Abi Bakr Muthayr dan Ahmad Abu Al-Abbas al-Muthayr juga banyak berhubungan dengan Singkel. Sesuai urutan rute haji, diketahui kemudian bahwa Singkel menyinggahi kota Jeddah di Saudi Arabia dimana dia belajar dengan muftinya Abd Al-Qadir Al-Bharkali. Selanjutnya di Makkah, Singkel belajar dengan Badr Al-Din al-Luhuri dan Abd Allah Al-Luhuri. Guru Singkel terpenting di Makkah adalah Ali Abd Al-Qadir.

Singkel juga menjalin hubungan dengan beberapa ulama terkemuka di Makkah. Antara lain Isa al-Maghribi, Abd Al-Aziz Al-Zamzani, Taj Al-din Ibn Ya'qub, Ala' Al-Din Al-Babili, Zayn Al-Abidin Al-Thabari, Ali Jamal Al-Makki dan Abd Allah Sa'id Ba Qasyir al-Makki. Dari banyak ulama inilah yang akhirnya menjadi bagian dari jaringan Singkel dalam upayanya menyebarkan pembaruan dan pengetahuan Islam di nusantara. Perjalananan akhir Singkel adalah di Madinah sekaligus menyelesaikan pelajarannya. Di kota tersebut, dia belajar dengan dua orang ulama penting, Ahmad Al-Qusyasyi dan khalifahnya Ibrahim al-Kurani. Dari Al-Qusyasyi dia mempelajari ilmu-ilmu dalam (ilm al bathin) yakni tasawuf dan ilmu terkait lainnya. Oleh gurunya itu, Singkel lantas ditunjuk sebagai khalifah Syathariyyah dan Qadiriyyah. Ini sekaligus menandai selesainya pelajaran dalam jalan mistis.

Ibrahim Al-Kurani banyak menanamkan pelajaran secara intelektual kepada Singkel. Pelajaran yang tidak hanya menyangkut pemikiran melainkan pada tingkah laku pribadi dan ilmu pengetahuan tentang pemahaman intelektual Islam bukannya pengetahuan spiritual atau mistis. Kedua ulama tersebut menjadi sentral dalam pencarian pengetahuan religi spiritual Singkel. Bahkan tak berlebihan jika al-Qusyasyi telah dianggap sebagai guru spiritual dan mistis Singkel sementara Al-Kurani menjadi guru intelektualnya.

Kualitas intelektual Singkel tak perlu diragukan lagi berkat didikan para ulama terkemuka saat itu. Pengetahuannya bisa dibilang sangat lengkap. Mulai dari syariat, fiqih, hadist, disiplin ilmu ekosoteris hingga kalam dan tasawuf.

Karier mengajarnya dimulai di Haramayn (Mekah dan Madinah). Hal ini dinilai Azyumardi Azra tidak mengherankan mengingat menjelang datang ke Makkah dan Madinah, Singkel telah mempunyai pengetahuan memadai untuk disampaikan kepada kaum muslim di Melayu-Indonesia. Selama 19 tahun dia belajar di tanah Arab. Merasa sudah cukup menggali ilmu dari banyak ulama, Singkel memutuskan kembali ke nusantara.

Ia kembali ke Aceh sekitar tahun 1083 H/1662 M dan mengajarkan serta mengembangkan tarekat Syattariah yang diperolehnya di Arab. Murid yang berguru kepadanya makin bertambah banyak dan bukan hanya berasal dari sekitar wilayah Aceh saja tapi seantero nusantara. Tak sedikit di antara murid-muridnya tadi menjadi ulama terkenal seperti Syeikh Burhanuddin dari Ulakan (Pariaman, Sumbar), Abd Al-Muhnyi dari Jawa Barat serta Dawud Al-Jawi Al-Fansuri Ismail Agha Mushthafa Agha 'Ali Al-Rumi asal Turki.


Karena pengetahuannya yang luas itu, maka Sultanah Shafiyyat Al-Din menunjuk Singkel menjadi Qadhi Malik Al-'Adil atau mufti yang bertanggungjawab terhadap administrasi masalah keagamaan di kesultanan Aceh. Dengan dukungan sultanah, Singkel berhasil menghapus ajaran Salik Buta, tarekat yang sudah ada sebelumnya.

Aceh ketika itu masih diramaikan pertentangan antara penganut doktrin Wujudiyyah dan Nuruddin Al-Raniri. Namun tidak ada sumber yang menyebutkan bahwa Singkel pernah bertemu dengan Al-Raniri sekitar periode 1047 H/1637 M dan 1054 H/1644-45 M. Kendati demikian, Singkel berusaha melepaskan diri dari kontroversi dua paham tersebut.

Singkel meninggal tahun 1105 H/1693 M. Dia dimakamkan di dekat kuala atau mulut sungai Aceh. Tempat tersebut juga menjadi kuburan untuk istri-istrinya, murid kesayangannya Dawud Al-Rumi dan murid-murid lainnya. Di kemudian hari, ia dikenal dengan nama Tengku Syech Kuala yang namanya diabadikan pada perguruan tinggi di Banda Aceh yakni Universitas Syiah Kuala. Singkel pun dikenal sebagai Wali Tanah Aceh. Makamnya hingga kini ramai dikunjungi para peziarah.

Singkel Dalam Karya
Sepanjang hidupnya, tercatat Singkel sudah mengggarap sekitar 21 karya tulis, terdiri dari 1 kitab tafsir, 2 kitab hadits, 3 kitab fiqih dan selebihnya kitab ilmu tasawuf. Bahkan tercatat kitab tafsirnya berjudul Turjuman al-Mustafid(Terjemah Pemberi Faedah) adalah kitab tafsir pertama yang dihasilkan di Indonesia dan berbahasa Melayu.

Dia juga menulis sebuah kitab fiqih berjudul Mi'rat at-Tullab fi Tahsil Ahkam asy-Syari'yyah li al Malik al-Wahhab (Cermin bagi Penuntut Ilmu Fiqih pada Memudahkan Mengenal Hukum Syara' Allah) yang ditulis atas perintah Sultanah. Sementara di bidang tasawuf, karyanya yakni Umdat al-Muhtajin(Tiang Orang-Orang yang Memerlukan), Kifayat al-Muhtajin (Pencukup Para Pengemban Hajat), Daqaiq al-Huruf (Detail-Detail Huruf) serta Bayan Tajalli(Keterangan Tentang Tajali).

Namun, di antara sekian banyak karyanya, terdapat salah satu yang dianggap penting bagi kemajuan Islam di nusantara yaitu kitab tafsir berjudul Tarjuman al-Mustafid. Ditulis ketika Singkel masih berada di Aceh, kitab ini telah beredar luas di kawasan Melayu-Indonesia bahkan hingga ke luar negeri. Diyakini oleh banyak kalangan, tafsir ini telah banyak memberikan petunjuk sejarah keilmuan Islam di Melayu. Di samping pula kitab tersebut berhasil memberikan sumbangan berharga bagi telaah tafsir al-quran dan memajukan pemahaman lebih baik terhadap ajaran-ajaran Islam.

Pada bagian lain, pendapat Singkel terhadap paham wahdadul wujuddipaparkannya dalam karya Bayyan Tajali. Karya ini juga merupakan usahanya untuk merumuskan keyakinan pada ajaran Islam. Dia berujar bahwa betapapun yakin seorang hamba kepada Allah, khalik dan mahluk tetap memiliki arti tersendiri.

Sumber :

Senin, 13 April 2015

Permainan Jaman Dulu


Petak Umpet



Permainan ini sangat sederhana namun menarik. Kita akan mengundi satu orang siapa yang akan menjadi penjaganya. Diamana penjaga itu bertugas untuk menjaga benteng pertahanannya, menghitung waktu sembunyi para pemain dan menemukan para pemain yang bersembunyi. Permainan ini membutuhkan kewaspadaan, tenaga dan kejelian dalam memainkannya. Permainan ini bisa di mainkan oleh banya orang tergantung orangnya yang ingin di mainkan.


Engklek



Engklek adalah sebutan untuk permainan ini di daerah Jawa di daerah saya permainan ini di sebut ingkling. Namun ada juga  daerah yang menyebut permainan ini dengan sebutan cak ingkling. Mungkin di setiap daerah berbeda – beda sebutannya.  Permainan ini sangat sederhana dan tidak memerlukan peralatan yang khusus untuk memainkannya. Hanya menggunakan batu atau apapun sebagai milik kita. Permainan ini diaminkan dengan cara membuat kotak pada tanah dimana kotak-kotak tersebut harus kita lompati dengan satu kaki. Permainan ini juga melatih kekuatan, kejelian dan keseimbangan tubuh para pemainnya. Permainan ini lebih menarik di mainkan oleh 2 – 4 orang.


Congklak



Permainan ini menggunakan kayu atau plastik sebagai papannya. Dimana kayu/plastik ini diberi lubang sebanyak 16 buah dengan susunan 7 lubang pada bagian panjangnya dan dua lubang besar di bagian lebarnya. Permainan ini menggunakan biji-bijian untuk dimana pemain memasukkan biji-bijian ke dalam lubang tersebut. Siapa yang memiliki biji terbanyak pada lubang miliknya, maka dialah pemenangnya. Permainan ini hanya dapat dimainakn oleh dua orang. Beberapa daerah menggunakan media tanah yang dilubangi sebagai pengganti kayu. Di daerah saya sering menggunakan media tanah untuk melakukan permainan ini dan biji – bijianya di gantikan oleh batu kecil yang mudah di dapat di mana – mana.


Kamis, 02 April 2015

Sejarah Al-Kisah Sunan Ki Ageng Gribig

Ki Ageng Gribig yang bernama asli Wasibagno Timur atau ada yang menyebutkan Syekh Wasihatno, merupakan keturunan Prabu Brawijaya V dari Majapahit. Yang mana disebutkan bahwa beliau adalah putra dari Raden Mas Guntur atau Prabu Wasi Jaladara atau Bandara Putih, putra dari Jaka Dolog adalah putra Prabu Brawijaya V raja terakhir kerajaan Majapahit, Ia adalah seorang ulama besar yang memperjuangkan Islam di pulau Jawa, tepatnya di Desa Krajan, Jatinom, Klaten.

Namun menurut Buku Muhammadiyah Setengah Abad 1912-1962 terbitan Departemen Penerangan RI disebutkan bahwa Ki Ageng Gribig masih keturunan Maulana Malik Ibrahim yang berputra Maulana Ishaq, yang berputra Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri), yang berputra Maulana Muhammad Fadhillah (Sunan Prapen) yang berputra Maulana Sulaiman alias Ki Ageng Gribig. Jadi jika ditarik kesimpulan, KH Achmad Dahlan yang bernama lahir Muhammad Darwis pendiri Muhammadiyah itu masih keturunannya Ki Ageng Gribig.

Dakwah Ki Ageng Gribig sangatlah mengena pada masyarakat yang pada saat itu masih banyak memeluk agama Hindu dan Budha.
Syiar beliau tidak hanya di daerah Klaten saja, namun menyebar luas sampai ke daerah Boyolali dan Surakarta.

Ki Ageng Gribig sangat pandai dalam strategi dakwah, hingga masyarakat yang pada waktu itu masih kental dengan keyakinan pada pohon dan batu besar, menjadi beriman pada Allah SWT. Keluhuran serta jasa beliau senantiasa terkenang dan melekat pada masyarakat, terutama yang tinggal di daerah Klaten dan Boyolali. Ki Ageng Gribig juga termasuk ke dalam tokoh yang berpengaruh, karena dekat dengan Sultan Agung Hanyakrakusuma penguasa Mataram.

Ki Ageng Gribig berhasil memadamkan niat Adipati Palembang yang ingin mbalela kepada Mataram tanpa melalui pertumpahan darah. Oleh karenanya, kemudian Sultan Agung bermaksud untuk mengangkat Ki Ageng Gribig sebagai Bupati Nayaka. Namun, Ki Ageng Gribig tidak bersedia dan lebih memilih menjadi ulama dari pada jadi pejabat.

Meskipun menolak, hubungan Ki Ageng Gribig dan Sultan Agung tetaplah baik, bahkan semakin dekat. Karena kemudian Ki Ageng Gribig menikah dengan adik Sultan Agung yang bernama Raden Ayu Emas Winongan, dan diberikan kekuasaan penuh sebagai ulama dan pemimpin atas tanah perdikan Mutihan di Jatinom. Mesjid Alit, mesjid pertama yang dibangun di Jatinom, adalah buah tangannya. Dan bahkan selang tak lama kemudian, atas perintah Sultan Agung, Ki Ageng Gribig mendirikan mesjid baru yang jauh lebih besar.
Mesjid yang berjarak hanya 100 meter dari Masjid Alit ini diberi nama Mesjid Besar Jatinom. Banyak peninggalan-peninggalan beliau yang menjadi bukti sejarah bahwa Ki Ageng Gribig adalah ulama besar yang berhasil dalam dakwahnya. Salah satu peninggalannya adalah Masjid Besar Jatinom yang dulu dijadikan pusat belajar mengajar, serta tongkat beliau yang sampai sekarang dijadikan sebagai tongkat Khotib ketika shalat Jum'at, serta kolam wudhu yang konon adalah tempat wudhu Ki Ageng Gribig beserta santrinya yang berjarak 50 meter dari Masjid yang bernama Sendang Plampeyan, Gua Suran dan juga Gua Belan. Gua Suran letaknya tak jauh dari Mesjid Besar Jatinom. Gua ini, dulunya, adalah tempat bersemedi Ki Ageng Gribig.

Konon, ular dan macan menjadi penjaganya, saat ia bersemedi. Meski berbentuk terowongan, Gua Suran ini tidak terlalu dalam, bahkan lebarnya hanya selebar tubuh manusia. Tingginya, memaksa orang yang masuk ke dalam untuk merunduk, agar tak terantuk atap gua. Tak jauh dari Gua Suran ini, Ki Ageng Gribig sempat memanfaatkan sebuah bangunan kecil sebagai tempat ibadah, saat ia pertama kali datang ke Jatinom.

Sementara Gua Belan, yang letaknya di sebelah timur Gua Suran, juga merupakan tempat bersemedi Ki Ageng Gribig, yang terkadang dijadikan tempat bertemu dengan Sultan Agung. Disebut-sebut, ia mampu melakukan perjalanan dari tempat tinggalnya di Jatinom, ke Makkah al- Mukarromah, dalam waktu singkat, bak orang melempar batu. Sehingga hampir setiap hari, ia dapat pergi ke Tanah Suci, dan kembali ke kampungnya. Suatu hal yang mustahil di zaman itu dan saat ini.

Suatu Jum’at di Bulan Safar (ada yang menyebutkan tanggal 15 Safar), Ki Ageng Gribig kembali dari perjalanannya ke Tanah Suci. Ia membawa oleh-oleh, 3 buah penganan dari sana. Sayangnya saat akan dibagikan kepada penduduk, jumlahnya tak memadai. Bersama sang istri, ia pun kemudian membuat kue sejenis. Kue-kue inilah yang kemudian disebarkan kepada penduduk setempat, yang berebutan mendapatkannya. Sambil menyebarkan kue-kue ini, iapun meneriakkan kata
"Ya Qowiyyu", yang artinya "Tuhan, Berilah Kekuatan" atau bisa juga berarti "Allah Yang Maha Perkasa (Kuat)". Secara utuh, Ki Ageng Gribig berucap::Ya qowiyyu qowwina wal muslimin ya qowiyyu ya rozaq warzuqna wal muslimin”. Yang Artinya, Ya Tuhan Yang Maha Kuat, semoga Engkau memberikan kekuatan kepada kami semua kaum muslimin.

Ya Tuhan Yang Maha Kuat dan Pemberi Rejeki, semoga Engkau memberikan rejeki kepada kami semua kaum muslimin. Penganan ini kemudian dikenal dengan nama apem, saduran dari bahasa Arab "Affan", yang bermakna Ampunan. Tujuannya, agar masyarakat selalu memohon ampunan kepada Sang Pencipta.
Sejak saat itu, tepatnya sejak tahun 1589 Masehi atau 1511 Saka, Ki Ageng Gribig selalu melakukan hal ini. Ia pun mengamanatkan kepada masyarakat Jatinom saat itu, agar di setiap Bulan Safar, memasak sesuatu untuk disedekahkan kepada mereka yang membutuhkan. Amanat inilah yang mentradisi hingga kini di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah, yang kemudian dikenal dengan "Yaqowiyu".

Sebutan Ki Ageng Gribig melekat pada diri beliau konon dikarenakan kesukaan Ki Ageng Gribig untuk tinggal di rumah beratap gribig (anyaman daun nyiur). Makam Ki Ageng Gribig dibuat dari batu merah dan kayu, terletak di Dukuh Jatinom, Kelurahan Jatinom, Kecamatan Jatinom, yang berjarak sekitar 9 km dari kota Klaten, Jawa Tengah.

Versi lain tentang Ki Ageng Gribig juga terdapat di Malang, Jawa Timur. Hanya saja Ki Ageng Gribig ini disebutkan sebagai putra dari Pengeran Kedawung yang juga salah seorang keturunan Lembu Niroto, pemilik panembahan Bromo. Lembu Niroto sendiri adalah putra ketiga dari Raja Brawijaya XI yang memerintah Majapahit pada 1466-1478. Jadi Ki Ageng Gribig itu cicit Raja Brawijaya XI. Ki Ageng Gribig ini konon disebut-sebut sebagai salah satu murid kesayangan Sunan Kalijaga yang ada di Malang. Tak heran jika Ki Ageng Gribig menjadi salah seorang ulama yang tersohor di Malang pada tahun 1650. Makam Ki Ageng Gribig ini kini terletak di Jalan Ki Ageng Gribig Gg. II, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Makam seluas satu hektar itu berada persis di sebelah sebuah masjid yang berdiri di jalan itu yang juga bernama Masjid Ki Ageng Gribig. Di antara susunan batu nisan dan bangunan kijing yang ada di kompleks makam terdapat sebuah bangunan berukuran sekitar 7 x 4 meter di sisi barat. Berbeda dengan bangunan lain, dua pintu yang menghadap utara selalu tertutup rapat, bahkan digembok dari luar, di dalam bangunan itu terdapat dua buah makam, itulah makam Ki Ageng Gribig dan istrinya.

Sumber:
- http://anasha.pun.bz/sejarah-al-kisah-sunan-ki-ageng-gribig.xhtml